Kamis, 28 Februari 2013

motivasi belajar mahasiswa



          BAB  I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
                        Setiap mahasiswa pada dasarnya mempunyai dorongan atau penggerak untuk melakukan kegiatan belajar di perguruan tinggi untuk mencapai tujuan belajar yang diinginkannya. Dorongan atau penggerak itulah yang kita sebut dengan motivasi. Sebagaimana diungkapkan oleh Hamzah B. Uno (2008: 1) “motivasi adalah dorongan dasar yang menggerakkan seseorang bertingkah laku, dorongan ini berada pada diri seseorang yang menggerakkan untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan dorongan dalam dirinya”. Senada itu, Sumadi Suryabrata (1986: 72)  menjelaskan, ”Motivasi merupakan keadaan dalam pribadi seseorang, yang mendorongnya untuk melakukan aktifitas tertentu guna mencapai suatu tujuan”.
                Berdasarkan pendapat di atas, motivasi merupakan dorongan dasar yang menggerakkan seseorang untuk bertindak untuk mencapai tujuan yang diinginkannya. Motivasi itu dimulai dari perasaan untuk mau atau tidak melakukan suatu perbuatan. Sebagaimana diungkapkan McDonald (dalam Oemar Hamalik, 2002: 173) ” motivasi itu merupakan suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif dan reaksi untuk mencapai tujuan”.
          Dalam kaitannya dengan belajar motivasi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar yang terletak pada aspek psikologis mahasiswa, seperti yang diungkapkan oleh Muhibbin syah (1995:133) “Banyak faktor yang mempengaruhi kuantitas dan kualitas perolehan hasil belajar siswa/mahasiswa. Namun, yang lebih esensial diantaranya: kecerdasan siswa, sikap, bakat, minat siswa dan motivasi siswa”. 
    Kenyataan di lapangan menunjukkan masih rendah atau kurangnya motivasi mahasiswa dalam belajar. Misalnya  mahasiswa sering terlambat, bolos, malas mengerjakan tugas-tugas perkuliahan, tidak konsentrasi dalam proses perkuliahan, ada di dalam kelas tapi tidak memahami materi perkuliahan, dosen yang jarang masuk, dsb.
             Melihat kenyataan itu, penulis tertarik untuk membahas masalah ini dengan menulis sebuah makalah dengan judul “Rendahnya Motivasi Belajar Mahasiswa dan Peningkatannya”
B.   Rumusan Masalah
      Berdasarkan latar belakang di atas, adapun rumusan masalah yang akan diungkapkan dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1.   Apa itu motivasi belajar bagi mahasiswa?
2.   Apa saja jenis-jenis motivasi ?
3.   Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi?
4.   Bagaimana cara meningkatkan motivasi belajar mahasiswa?

C.    Tujuan Penulisan
   Sesuai dengan perumusan masalah yang ditemukan diatas, maka makalah ini bertujuan untuk menyampaikan informasi dan memberikan gambaran mengenai motivasi belajar mahasiswa, yang meliputi:
1.   Menjelaskan mengenai pengertian motivasi belajar.
2.   Menjelaskan mengenai jenis-jenis motivasi
3.   Menjelaskan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi.
4.   Memberikan informasi mengenai upaya yang dapat dilakukan dalam meningkatkan motivasi belajar mahasiswa.













BAB II
 MOTIVASI BELAJAR MAHASISWA
A.       Pengertian Motivasi Belajar
Sebelum kita mengetahui apa itu motivasi belajar bagi mahasiswa, terlebih dahulu kita harus tahu apa itu motivasi dan belajar. Sudjana (2000: 5); Slameto          (2003: 18); Munandir (dalam W.S Winkel, 1996: 36) mengemukakan belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan disposisi atau kapabilitas pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil dari proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti perubahan pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, keterampilan, kecakapan, kebiasaaan serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada individu.
      Senada itu, belajar menurut Abu Ahmadi (1993: 20) “suatu bentuk pertumbuhan atau perbuatan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku berkat pengalaman dan latihan”. Menurut Wittig dalam bukunya psychologi of learning mendefenisikan belajar sebagai perubahan yang relatif menetap yang terjadi dalam segala macam atau keseluruhan tingkah laku suatu organisme sebagai hasil pengalaman (Muhibbin Syah, 1995: 90).
     Sedangkan Biggs (dalam Muhibbin Syah, 1995: 91) mengemukakan pengertian belajar dalam tiga macam rumusan, yaitu: rumusan kuantitatif, rumusan institusional dan rumusan kualitatif. Secara kuantitatif (jumlah), belajar berarti kegiatan pengisian atau pengembangan kemampuan kognitif dengan fakta sebanyak-banyaknya. Jadi, belajar dalam hal ini dipandang dari sudut berapa banya materi yang dikuasai siswa.
         Secara institusional (kelembagaan), belajar dipandang sebagai proses Validasi atau pengabsahan terhadap pengusaan siswa atas materi-materi yang telah dipelajarinya. Adapun pengertian belajar secara kualitatif (mutu) ialah proses memperoleh pemahaman dan menerapkan materi yang ia pelajari dalam kehidupannya.
     Sedangkan Mulyati (2005: 2) “belajar adalah pembentukan atau shaping tingkah laku individual melalui kontak dengan lingkungan”. Lebih lanjut Mulyati (2005: 5) juga mengungkapkan “Belajar merupakan suatu usaha sadar individu untuk mencapai tujuan peningkatan diri atau perubahan diri melalui latihan”.
     Selanjutnya teori Thorndike (dalam Hamzah Uno, 2008: 11) mengemukakan bahwa belajar adalah “proses interaksi antara stimulus (yang mungkin berupa pikiran, perasaan atau gerakan) dan respons (yang juga bisa berupa pikiran, perasaan atau gerakan). Jelasnya menurut Thorndike ini, perubahan tingkah laku dalam belajar dapat berwujud sesuatu yang konkret (dapat diamati), atau yang nonkonkret (tidak bisa diamati).
Di dalam belajar praktek misalnya, perubahan tingkah laku seseorang dapat dilihat secara konkret atau dapat diamati. Pengamatan ini dapat diwujudkan dalam bentuk gerakan yang dilakukan terhadap suatu objek yang dikerjakannya..
     Bertolak dari berbagai pengertian di atas, secara umum belajar dapat dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Perubahan itu tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan tetapi juga berbentuk kecakapan, keterampilan, sikap, pengertian, harga diri, minat, watak maupun penyesuaian diri.
         Selanjutnya pengertian motivasi adalah “kondisi-kondisi atau keadaan yang mengaktifkan atau memberikan dorongan kepada makhluk untuk bertingkah laku mencapai tujuan (Wasty Soemato, 1983: 203). Sedangkan Thomas L. good dan Jere B. Briphy (dalam Elida Prayitno, 1989:8) berpendapat bahwa motivasi itu merupakan sebagai suatu penggerak, pengarah dan memperkuat tingkah laku seseorang dalam melakukan perbuatan tertentu. Individu yang akan melakukan suatu perbuatan mempunyai suatu energi penggerak dan mengarahkan untuk memperkuat perbuatan itu untuk mencapai tujuan. Marx dan Tombouch (dalam Elida Prayitno, 1989: 8) mengumpamakan motivasi sebagai bahan bakar dalam beroperasinya mesin gasolin. Tidaklah berarti, betapapun baiknya mesin dan kehalusan penyetelan kita dalam mengoperasikan mesin gasolin tersebut, kalau bahan bakarnya tidak ada. Begitu pula dengan belajar, sekolah yang sudah menyediakan fasilitas belajar siswa seperti, perpustakaan, labor, internet, itu semua tidak berarti apabila siswanya tidak termotivasi dalam belajar.
         Sedangkan Clifford T. Morgan (dalam Wasty Soemato, 1983: 203) berpendapat bahwa:
         motivasi berhubungan dengan tiga hal yang sekaligus merupakan aspek dari motivasi, ketiga hal tersebut adalah keadaan yang mendorong tingkah laku (motivating states), tingkah laku yang didorong oleh keadaan tersebut (motivated behavior), dan tujuan dari tingkah laku tersebut (goals or ends of such behavior).

         Sama halnya dengan pendapat Clifford, Mc. Donald (dalam Oemar hamalik, 2002: 173-174) mengungkapkan bahwa “motivasi itu mengandung tiga unsur yang saling berkaitan yaitu perubahan energi, timbulnya afektif dan reaksi-reaksi untuk mencapai tujuan”. Berdasarkan pendapat Mc. Donald ini, maka pengertian motivasi dapat dijelaskan sebagai berikut sebagai berikut:
1.   Motivasi dimulai dari adanya perubahan energi dalam pribadi. Perubahan-perubahan dalam motivasi timbul dari perubahan-perubahan tertentu di dalam sistem neurofisiologis dalam diri manusia, misalnya adanya perubahan dalam sistem pencernaan adanya menimbulkan motif lapar.
2.   Motivasi ditandai dengan timbulnya perasaan (affective arousal). Mula- mula merupakan ketegangan psikologis, lalu merupakan suasana emosi. Suasana emosi ini menimbulkan kelakuan yang bermotif. Perubahan ini mungkin disadari, mungkin juga tidak. Misalnya Si A terlibat dalam suatu diskusi, karena dia merasa tertarik pada masalah yang akan dibicarakan, dia akan berbicara dengan suara yang cepat dan lancar.
3.    Motivasi ditandai oleh reaksi-reaksi untuk mencapai tujuan. Pribadi yang bermotivasi mengadakan respon-respon yang tertuju ke arah suatu tujuan. Respon-respon ini berfungsi mengurangi ketegangan yang disebabkan oleh perubahan energi dalam dirinya. Setiap respon merupakan suatu langkah ke arah pencapaian tujuan. Misalnya seorang mahasiswa ingin mendapatkan IP yang baik, maka ia akan belajar dengan keras, membaca buku, memahami materi kuliah dengan baik, dan lain sebagainya.
            Menurut Oemar Hamalik (2002: 175) “motivasi itu merupakan suatu hal yang mendorong timbulnya suatu perbuatan, mengarahkan perbuatan kepada pencapaian tujuan yang dikehendaki, dan menentukan cepat atau lambatnya suatu perbuatan itu”. Motivasi hendaklah dianggap sebagai sesuatu yang terkait dengan kebutuhan, maksudnya bahwa individu mempunyai dorongan untuk memenuhi kebutuhannya. Sebagai mana diungkapkan oleh Ashar Sunyoto Munandar (2001: 323) “suatu proses dimana kebutuhan-kebutuhan mendorong seseorang untuk melakukan serangkaian kegiatan yang mengarah ke arah tercapainya tujuan tertentu, tujuan yang jika berhasil dicapai akan memuaskan atau memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut”. Sedangkan Motivasi menurut  John W. Santrock (2008: 510) “proses yang memberi semangat, arah, dan kegigihan perilaku. Artinya perilaku yang termotivasi adalah perilaku yang penuh energi, terarah dan bertahan lama.”
                           Berdasarkan pendapat para ahli diatas dapat kita simpulkan bahwa motivasi itu merupakan dorongan dasar yang menggerakkan seseorang dalam bertingkah laku dalam mencapai suatu tujuan.
                           Dengan demikian yang dimaksud dengan motivasi belajar mahasiswa adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri mahasiswa yang menimbulkan kegiatan belajar/proses perkuliahan yang menjamin kelangsungan dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai.
        Motivasi memegang peranan yang sangat penting dalam kegiatan belajar di perguruan tinggi, dan motivasi dipengaruhi oleh tujuan yang akan dicapai dengan belajar. Makin tinggi tujuan belajar maka akan semakin besar pula motivasinya, dan semakin besar motivasi belajarnya akan semakin kuat pula kegiatan belajarnya. Ketiga komponen kegiatan atau perilaku belajar tersebut, saling berkaitan erat dan membentuk suatu kesatuan yang disebut sebagai proses motivasi belajar. Proses motivasi belajar ini meliputi tiga langkah yaitu:
1.     Adanya suatu kondisi yang terbentuk dari tenaga-tenaga pendorong  belajar (desakan, kebutuhan, dan keinginan belajar ) yang menimbulkan suatu ketegangan dalam diri mahasiswa.
2.      Berlangsungnya kegiatan atau perilaku belajar yang diarahkan pada  pencapaian tujuan belajar akan mengendurkan atau menghilangkan ketegangan.
3.      Pencapaian tujuan belajar dan berkurangnya atau hilangnnya ketegangan di dalam diri mahasiswa (Nana Syaodih Sukmadinata, 2007: 382).
B.     Jenis-Jenis Motivasi
 Dalam membicarakan soal jenis-jenis motivasi, hanya akan dibahas dari dua sudut pandang, yakni motivasi yang berasal dari dalam diri pribadi seseorang yang disebut motivasi intrinsik dan motivasi yang berasal dari luar diri seseorang yang disebut motivasi ektrinsik.
1.      Motivasi Intrinsik
    Motivasi intrinsik adalah ”hal dan keadaan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar” (Muhibbin Syah, 1995: 136-137). Senada itu Thornburg (dalam Elida Prayitno, 1989: 10-11);Syaiful Bahri Djamarah (2008: 149) mengungkapkan bawa motivasi intrinsik itu merupakan keinginan bertindak yang disebabkan faktor pendorong  dari dalam diri (internal) individu yang tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam setiap diri individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Atau dengan kata lain individu terdorong untuk bertingkah laku ke arah tujuan tertentu tanpa adanya faktor dari luar.
   Di dalam proses belajar siswa yang termotivasi secara intrinsik dapat dilihat dari kegiatannya yang tekun dalam mengerjakan tugas-tugas belajar karena merasa butuh dan ingin mencapai tujuan belajar yang sebenarnya, bukan karena keinginan mendapatkan pujian, hadiah dari guru.
  Gage dan Berline (dalam Elida Prayitno, 1989: 11) mengemukakan bahwa mahasiswa yang termotivasi secara intrinsik aktifitasnya lebih baik dalam belajar dari pada mahasiswa yang termotivasi secara ektrinsik. mahasiswa yang memiliki motivasi intrinsik menunjukkan keterlibatan dan aktifitas yang tinggi dalam belajar. mahasiswa seperti ini baru akan mencapai kepuasan kalau ia dapat memecahkan masalah pelajaran dengan benar, atau dapat mengerjakan tugas perkuliahan secara baik. Belajar di kelas, kelompok. Mandiri dan mengerjakan tugas-tugas menjadi tantangan dan tanpa paksaan ia mau melakukannya.
  Jadi, motivasi intrinsik itu muncul berdasarkan tujuan yang diinginkan mahasiswa dalam belajar, tanpa adanya pengaruh dari luar seperti dari dosen, orang tua, maupun lingkungan masyarakat.
2.   Motivasi Ektrinsik
   Motivasi belajar dikatakan ektrinsik bila mahasiswa menempatkan tujuan belajarnya di luar faktor-faktor situasi belajar (Syaiful Bahri Djamarah, 2008: 151). mahasiswa belajar karena hendak mencapai angka tertinggi, diploma, gelar, kehormatan, pujian, disegani, dan sebagainya.
    Motivasi ektrinsik bukan berarti motivasi yang tidak diperlukan dan tidak baik dalam pendidikan. Motivasi ektrinsik diperlukan agar mahasiswa mau belajar. Di dalam kelas banyak sekali mahasiswa yang dorongan belajarnya memerlukan motivasi ektrinsik. Mereka memerlukan perhatian dan pengarahan yang khusus dari dosen. Namun untuk hal ini tentunya motivasi ektrinsik tidak lagi menjadi prioritas mahasiswa. Mereka harus membangkitkan semangat belajar dari dalam dirinya sendiri untuk mencapai kesuksesan di perguruan tinggi.

C.    Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi motivasi belajar (Max Darsono
dkk 2000: 34) antara lain:
a. Cita-cita atau aspirasi
 Cita-cita atau apirasi adalah suatu target yang ingin dicapai. Penentuan target ini tidak sama bagi semua mahasiswa. Target ini diartikan sebagai tujuan yang ditetapkan dalam suatu kegiatan yang mengandung makna bagi mahasiswa.
b. Kemampuan
 Dalam belajar dibutuhkan kemampuan. Kemampuan ini meliputi beberapa aspek psikis yang terdapat dalam diri mahasiswa, misalnya kecerdasan, pengamatan, perhatian dan daya pikir analisa
c. Kondisi mahasiswa
 Kondisi mahasiswa meliputi kondisi fisik (kesehatan) dan kondisi psikologis misalnya emosi. Kondisi ini terkadang menganggu aktivitas mahasiswa dalam kuliah, misalnya saja mahasiswa yang kurang sehat motivasi belajarnya akan berbeda sewaktu dia dalam keadaan sehat. Begitu pula kondisi psikis mahasiswa, misalnya dia sedang mengalami patah hati atau putus dari pacarnya, hal ini akan berdampak buruk bagi mahasiswa yang tidak bisa menempatkan/mengendalikan emosinya secara baik. Dia malahan banyak murung daripada mengerjakan berbagai tugas-tugas perkuliahan.
d. Kondisi lingkungan
Kondisi lingkungan mahasiswa meliputi lingkungan keluarga, lingkungan kos, lingkungan kampus dan lingkungan masyarakat.
e. Unsur-unsur dinamis dalam belajar
   Unsur-unsur dinamis dalam belajar adalah unsur-unsur yang keberadaannya dalam proses belajar tidak stabil, kadang-kadang kuat, kadang-kadang lemah dan bahkan hilang sama sekali khususnya kondisi-kondisi yang sifatnya kondisional misalnya emosi mahasiswa, gairah belajar, situasi belajar, situasi dalam keluarga.
f. Cara Dosen Mengajar
  cara yang dimaksud di sini adalah bagaimana seorang dosen mempersiapkan diri sebelum mengajar, ketepatan waktu, materi yang disampaikan, keakraba dengan mahasiswa, dsb.



D.    Peningkatan Motivasi Belajar Mahasiswa Berdasarkan Teori Humanistik
Kaum humanistik yakin bahwasanya motivasi itu dikontrol dari dalam diri individu itu sendiri. Kesadaran dari individulah yang membuat ia terdorong untuk belajar. Meskipun awalnya motivasi datang dari luar namun untuk meyakinkan itu sebuah motivasi, maka individu sendirilah yang akan bergerak untuk melakukannya. Ada beberapa hal yang bisa dijadikan sebagai indikator tingkah laku mahasiswa  yang memiliki motivasi yang diarahkan oleh diri sendiri menurut Klausemeler (dalam Elida Prayitno, 1989: 88-87) dapat digambarkan sebagai berikut:

1.      Mahasiswa mulai mengerjakan tugas-tugas perkuliahan tepat waktu, dan berusaha menyelesaikannya secara baik dan dikerjakan oleh diri sendiri atau dibahas secara kelompok.
2.      Berkunjung ke rumah/kos teman, kakak kelas maupun ke rumah dosen atau situasi-situasi lain dalam rangka mendapatkan bahan masukan untuk menyelesaikan tugas-tugasnya.
3.      Dengan segala senang hati memperbaiki tugas-tugasnya sampai benar-benar sempurna.
4.      Mahasiswa merasa bertanggung jawab terhadap keberhasilannya dalam belajar.
5.      Tetap belajar di kelas seperti membaca buku, diskusi, meskipun dosen tidak ada di kelas.
6.      Selalu sibuk melakukan apa saja yang dapat mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya dengan sarana yang ada di kampusnya.
7.      Mempunyai interaksi sosial yang harmonis dengan mahasiswa lainnya.
8.      Mempunyai interaksi yang harmonis dengan dosen-dosen.
9.      Menghemat dan memelihara harta benda sendiri atau milik orang lain.
10.  Berani mengemukakan pendapatnya di ruangan kelas

Selanjutnya menurut Anne Ahira (http://www.anneahira.com/motivasi), hal yang dapat dilakukan mahasiswa untuk meningkatkan motivasinya dalam perkuliahan:
1.      Bergaullah dengan mahasiswa-mahasiswa yang senang belajar
      Bergaul dengan orang-orang yang senang belajar da prestasi, akan membuat kita semakin terpacu untuk belajar. Hal ini tentunya menumbuhkan keyakinan dalam diri mahasiswa bahwasanya sukses atau tidaknya bukan kebanyakan factor orang lain, tapi berasal dari diri saya sendiri.


2.      Belajar Apapun
       Maksudnya adalah jangan memilih-milih materi yang mudah saja, kerjakan materi yang sulit pun untuk menantang kemampuan dan semangat kita dalam belajar.
3.      Belajar dari dan untuk orang lain
       Artinya adanya suatu kelompok belajar yang dibentuk. Bisa digunakan sebagai ajang pemantapan materi perkuliahan maupun sebagai ajang berbagi cerita yang lainnya. belajar bersama teman dapat memupuk rasa kebersamaan, kepedulian, serta saling membantu.
4.      Bergaullah dengan orang yang optimis dan berpikir positif
       Di dunia ini ada orang yang selalu berpikir optimis meski masalah merudung. Kita akan tertulas semangat, gairah, rasa optimis apabila sering bersosialisasi dengan orang-orang seperti ini.
5.      Cari Motivator
      Kadangkala untuk membangkitkan dorongan belajar dari dalam, mahasiswa membutuhkan penyemangat atau orang-orang yang mensupportnya. Misalnya teman kelas, pacar, maupun komunitas tertentu.









BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
          Motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar yang menjamin kelangsungan dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai.
          Secara umum motivasi itu terbagi dua, yaitu motivasi instrinsik dan motivasi ektrinsik. Motivasi dikatakan intrinsik apabila hal dan keadaan yang berasal dari dalam diri mahasiswa sendiri yang dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar. Sedangkan motivasi dikatakan ektrinsik apabila mahasiswa menempatkan tujuan belajarnya di luar faktor-faktor situasi belajar. Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar siswa diantaranya cita-cita atau aspirasi, kemampuan, kondisi siswa, kondisi lingkungan, unsur-unsur dinamis dalam belajar, dan upaya guru membelajarkan siswa.
          Motivasi memegang peranan yang sangat penting dalam kegiatan belajar bagi mahasiswa, mempengaruhi intensitas kegiatan belajar, tetapi motivasi dipengaruhi oleh tujuan yang akan dicapai dengan belajar. Makin tinggi tujuan belajar maka akan semakin besar pula motivasinya, dan semakin besar motivasi belajarnya akan semakin kuat pula kegiatan belajarnya.


B.     Saran
  Sebagai seorang mahasiswa yang berkutat di bidang akademik, tumbuhkanlah motivasi itu dari dalam bukan karena faktor-faktor luar. Karena dari dalam itulah kita sadar betapa pentingnya keseriusan dan ketekunan belajar di perguruan tinggi.


DAFTAR PUSTAKA

Abu Ahmadi. 1993. Cara Belajar Mandiri Dan Sukses. Solo: CV Aneka.
Cipta.
Anshar Sunyoto Munandar. 2001. Psikologi Industri dan organisasi. Jakarta: UI Press.
Elida Prayitno. 1989. Motivasi Dalam Belajar. Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan.
Hamzah B. Uno. 2008. Teori Motivasi Dan Pengukurannya. Jakarta:  PT. Bumi Persada.
Muhibbin Syah. 1995. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan terbaru. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
Mulyati. 2005. Psikologi Belajar. Yogyakarta: CV. Andi offset.
Oemar Hamalik. 2002. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung : Sinar Baru Algensindo.
Wasty Soemanto. 1983. Psikologi Pendidikan. Malang: Rineka Cipta.
W Santrock, John. 2008. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Kencana.
W.S Winkel. 1996. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Grafindo.

           












Tidak ada komentar:

Poskan Komentar